Polygon Labs, perusahaan di balik jaringan scaling Ethereum Polygon, dilaporkan memangkas sekitar 30% stafnya sebagai bagian dari restrukturisasi pasca-akuisisi senilai lebih dari Rp 3,9 triliun ($250 juta).
Langkah ini, yang memicu spekulasi tentang arah bisnis perusahaan, datang hanya beberapa hari setelah pengumuman pembelian Coinme dan Sequence, dua firma pembayaran crypto, untuk memperkuat visi "payments-first" berbasis stablecoin.
Menurut sumber yang dekat dengan perusahaan, pemotongan staf ini terjadi pada pertengahan Januari 2026 dan memengaruhi berbagai tim.
CEO Polygon Labs, Marc Boiron, membantah rumor pemotongan 30% tenaga kerja secara keseluruhan, menekankan bahwa jumlah karyawan tetap stabil setelah integrasi akuisisi.
"Ini bukan tentang kinerja individu, tapi restrukturisasi bisnis untuk fokus pada pembayaran stablecoin," kata Boiron dalam pernyataan publiknya di X. Namun, beberapa karyawan yang terdampak, seperti Mattie Fairchild, Head of Founder Experience, menyatakan kebanggaan atas pengalaman mereka meski harus pergi, sambil optimistis terhadap masa depan protokol Polygon.
Pemotongan ini bukan yang pertama bagi Polygon. Pada 2025, perusahaan juga melakukan PHK signifikan sebagai upaya mengurangi kompleksitas dan mengalokasikan sumber daya lebih efisien. Kali ini, langkah tersebut diyakini terkait langsung dengan akuisisi Coinme (platform pembayaran crypto) dan Sequence (alat pengembang blockchain), yang bertujuan mempercepat adopsi pembayaran digital berbasis stablecoin. Analis melihat ini sebagai pivot strategis Polygon untuk bersaing di pasar pembayaran crypto yang semakin kompetitif, di mana pendapatan protokolnya telah melebihi Rp 26 miliar ($1,7 juta) sejak awal Januari 2026.
Meski perusahaan menegaskan posisi keuangannya kuat, pemotongan massal ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas industri crypto di tengah volatilitas pasar. Token asli Polygon, MATIC, naik 2,78% dalam 24 jam terakhir, menunjukkan kepercayaan investor terhadap strategi baru ini. Namun, bagi karyawan yang terkena dampak, ini menjadi pengingat keras akan dinamika cepat sektor ini.
Regulator dan pengamat industri memperhatikan perubahan ini, terutama di Indonesia di mana ekosistem blockchain seperti Polygon semakin populer di kalangan developer dan investor ritel. Untuk mengurangi risiko serupa, perusahaan crypto disarankan fokus pada transparansi dan dukungan karyawan selama transisi
