Suasana tegang menyelimuti ibukota Amerika Serikat. Gedung Putih dijadwalkan menggelar pertemuan darurat tingkat tinggi pada 2 Februari mendatang, memanggil seluruh "Dewa" industri keuangan: mulai dari eksekutif puncak Coinbase, perwakilan bank raksasa JPMorgan dan Bank of America, hingga kelompok lobi kripto paling berpengaruh. Agenda utama pertemuan tertutup ini sangat krusial: memecah kebuntuan RUU struktur pasar aset digital yang macet, sebuah legislasi yang bisa menentukan hidup-matinya industri kripto di AS.
Kecemasan pasar memuncak karena RUU ini, khususnya CLARITY Act, terancam gagal total akibat perselisihan sengit mengenai regulasi stablecoin. Brian Armstrong, CEO Coinbase, menarik dukungannya bulan lalu, menolak keras ketentuan yang melarang penerbit stablecoin memberikan imbal hasil (rewards). "Ini bukan sekadar perdebatan teknis, ini adalah perang perebutan kue ekonomi triliunan dolar antara petahana perbankan dan inovator kripto," ungkap seorang analis senior Bloomberg.
Pertarungan di Capitol Hill Sementara Gedung Putih mencoba memediasi, Komite Pertanian Senat (Senate Ag Committee) terus bergerak maju. Pada 29 Januari, mereka menggelar markup untuk Digital Commodity Intermediaries Act, RUU yang memberikan wewenang utama kepada CFTC untuk mengawasi perdagangan spot aset digital. Voting berlangsung panas dan berakhir tipis 12-11, mencerminkan retaknya dukungan bipartisan yang selama ini menjadi nyawa legislasi tersebut.
Jika pertemuan 2 Februari ini gagal mencapai titik temu, industri kripto menghadapi mimpi buruk: "Tsunami Regulasi". Kekosongan hukum akan diisi oleh penegakan agresif dari SEC dan Departemen Keuangan, yang berpotensi mematikan inovasi dan mengusir pelaku industri ke luar AS. Pasar merespons ketakutan ini dengan negatif; harga Bitcoin tergelincir di bawah US$88.000, menyeret kapitalisasi pasar global kehilangan miliaran dolar.
Titik Balik 2026 Bagi investor, pertemuan ini adalah pedang bermata dua. Kesuksesan negosiasi bisa membuka gerbang banjir dana institusional masuk ke pasar, mendorong valuasi ekosistem menuju target US$5 Triliun seperti prediksi Tom Lee. Namun, kegagalan berarti perpanjangan masa ketidakpastian ("Crypto Winter Regulasi") yang menyakitkan.
Ripple, pemimpin PAC pro-kripto, mendukung penuh inisiatif Gedung Putih ini. Namun, trader ritel diingatkan untuk bersiap menghadapi volatilitas ekstrem. "Satu tanda tangan di Washington bisa mengubah nasib portofolio Anda dalam semalam," peringat analis. Pantau terus perkembangan dari Oval Office—nasib bull run 2026 mungkin sedang ditulis di sana.
(Sumber: Yahoo Finance, Bloomberg, CoinDesk)
