Home/Dugaan Manipulasi Binance Picu Likuidasi Terbesar Sejarah Senilai US$19 Miliar
Crypto

Dugaan Manipulasi Binance Picu Likuidasi Terbesar Sejarah Senilai US$19 Miliar

Dugaan Manipulasi Binance Picu Likuidasi Terbesar Sejarah Senilai US$19 Miliar

Key Takeaways

Dunia aset digital terguncang hebat mengenang peristiwa kelam 10 Oktober 2025, sebuah tanggal yang kini identik dengan kehancuran finansial massal. Dalam durasi kurang dari satu jam, pasar kripto menyaksikan lenyapnya kekayaan senilai US$19 miliar (sekitar Rp290 triliun) akibat likuidasi posisi leveraged, menandai bencana finansial terbesar dalam sejarah industri ini. Meskipun katalis makroekonomi berupa pengumuman agresif Donald Trump terkait tarif impor 100% terhadap China memicu kepanikan awal, sorotan utama investigasi kini tertuju pada Binance atas dugaan kegagalan sistemik yang mengarah pada manipulasi pasar terkoordinasi.

Kekacauan bermula ketika aset stablecoin dan wrapped assets, khususnya USDe, mengalami depeg katastropik hingga menyentuh level US$0,65. Kejatuhan nilai kolateral ini memaksa mesin risiko Binance untuk memicu margin call massal yang tak terbendung. Namun, narasi "glitch teknis" yang didengungkan oleh Cathie Wood dari ARK Invest segera ditantang oleh temuan forensik on-chain yang meresahkan. Data menunjukkan pergerakan dana mencurigakan sebesar US$700 juta oleh market maker raksasa Wintermute ke dompet bursa hanya beberapa jam sebelum insiden. Lebih jauh, terdeteksi satu entitas anonim yang membuka posisi short raksasa senilai US$1,1 miliar tepat sebelum harga jatuh, memicu dugaan kuat adanya predatory trading yang dirancang untuk memangsa likuiditas ritel.

Di lapangan, kepanikan berubah menjadi tragedi. Ribuan trader melaporkan malfungsi platform yang fatal: order stop-loss yang diabaikan sistem, antarmuka perdagangan yang membeku total, hingga likuiditas yang menguap seketika saat likuidasi terjadi—sebuah fenomena likuidasi satu arah yang sempurna. Statistik akhir sangat mengerikan: lebih dari 1,6 juta akun hangus, dengan 87% di antaranya adalah posisi long. Dana asuransi Binance sendiri harus merogoh US$188 juta untuk menambal kerugian sistem, sementara total wiped-out pasar diperkirakan menembus US$28 miliar.

Dampak peristiwa ini melampaui grafik harga; laporan tragis dari komunitas, termasuk dugaan bunuh diri seorang trader di Ukraina, menambah bobot kelam pada skandal ini. Manajemen Binance membantah tuduhan sabotase, mengklaim insiden tersebut murni akibat latency pada feed data harga, dan berjanji melakukan kompensasi case-by-case. Namun, regulator global kini tidak lagi bisa mentolerir alasan teknis dan menuntut transparansi radikal, termasuk log audit algoritma Auto-Deleveraging (ADL). Tragedi 10 Oktober adalah pengingat brutal bahwa dalam pasar yang tidak teregulasi penuh, batas antara inkompetensi teknis dan manipulasi sering kali setipis kertas.

(Sumber: Yahoo Finance, TradingView, Investigasi On-Chain)

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar